Sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara, tari sanghyang Bali menjadi salah satu tarian tradisional yang memiliki nilai spiritual tinggi. Tarian ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah ritual suci untuk memohon perlindungan dari roh jahat dan memulihkan keseimbangan alam. Dalam setiap gerakannya, tersimpan makna mendalam tentang kepercayaan masyarakat Bali terhadap kekuatan gaib dan dunia spiritual.
Tarian ini biasanya hanya dilakukan pada waktu tertentu, terutama saat desa mengalami wabah atau peristiwa luar biasa. Yuk, kenali lebih jauh keunikan dan kesakralan tari ini yang tetap lestari hingga kini.
Baca Juga: Tari Pendet Bali, Tarian Sakral Penyambutan Penuh Keindahan
Asal Usul dan Makna Tari Sanghyang Bali
Tari sanghyang Bali berakar dari kepercayaan kuno masyarakat Hindu Bali yang meyakini adanya roh pelindung. Kata “Sanghyang” sendiri berarti roh suci yang menitis ke dalam tubuh penari. Dalam tradisi ini, penari diyakini berada dalam kondisi trance atau kerasukan ketika ritual berlangsung.
Tujuan utama tarian ini adalah untuk membersihkan lingkungan dari pengaruh negatif dan memohon perlindungan dari para dewa. Karena sifatnya sakral, Tari Sanghyang hanya dilakukan oleh perempuan pilihan yang dianggap suci dan sudah melalui ritual penyucian.
Jenis dan Bentuk Tari Sanghyang
Ada beberapa jenis tari sanghyang Bali, tergantung dari roh yang diyakini menitis ke penari. Dua bentuk yang paling terkenal adalah:
- Sanghyang Dedari – dimainkan oleh dua anak perempuan yang menari dengan mata tertutup dalam kondisi kerasukan roh dewi. Gerakannya lembut dan menggambarkan kesucian.
- Sanghyang Jaran – dimainkan oleh laki-laki yang menunggang kuda anyaman (jaran) dan berjalan di atas bara api tanpa merasa sakit.
Kedua jenis ini memiliki tujuan sama, yaitu menjaga keseimbangan spiritual dan menolak bala.
Ritual dan Musik Pengiring
Sebelum tari sanghyang Bali dimulai, masyarakat biasanya melakukan ritual penyucian di pura desa. Penari diberi dupa, bunga, dan air suci agar siap menerima roh yang akan menitis. Musik pengiringnya bukan gamelan besar seperti tarian lain, melainkan nyanyian kidung suci dari para wanita yang disebut pamor.
Alunan kidung ini dipercaya memanggil roh suci untuk hadir dan memberikan kekuatan pada penari. Selama ritual berlangsung, suasana terasa khusyuk dan sakral karena diyakini roh suci benar-benar hadir.
Nilai Spiritual dan Pelestarian
Lebih dari sekadar pertunjukan, tari sanghyang Bali adalah warisan budaya yang merefleksikan hubungan manusia dengan alam dan dunia spiritual. Tarian ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat Bali menjaga tradisi leluhur mereka dengan penuh penghormatan.
Upaya pelestarian dilakukan dengan hati-hati, agar esensi spiritualnya tidak hilang. Pemerintah dan seniman lokal kini terus menjaga keberadaan tari ini, terutama melalui festival budaya dan pertunjukan terbatas di desa-desa adat.